Juanda Bin Sahim, Menahan Rindu Pada Keluarga Demi Tugas Mengurus Pemakaman Pasien Covid-19


Juanda

Seperti hari-hari, Juanda Bin Sahim memulai harinya dengan mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) berwarna putih. Kemudian dia mengenakan sarung tangan di kedua tangannya. Terakhir dipasangnya masker untuk melindungi bagian hidung dan mulut.

Juanda Bin Sahim bukan salah satu tenaga medis yang bekerja di rumah sakit rujukan Covid-19. Bukan juga relawan Covid-19 yang ditugaskan di rumah sakit darurat wisma atlet. Pria berusia 40 tahun ini salah satu petugas di garda terdepan penanganan Covid yang bertugas di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok ranggon.

Sejak ditetapkan sebagai salah satu rujukan tempat pemakaman pasien positif Covid-19 yang meninggal dunia, kehidupan Juanda berubah drastis. Tugasnya sebagai tukang gali kubur di TPU tempatnya bertugas semakin berat. Demi menjaga diri agar tidak tertular virus corona dari pasien yang dimakamkan, Juanda harus bertugas dengan mengenakan APD lengkap.

Alat Pelindung Diri yang dipakainya baru datang pada awal April berkat adanya bantuan dari berbagai yayasan dan instansi. Sebelum itu, Juanda dan teman-teman seprofesinya hanya mengenakan jas hujan yang banyak dijual di pinggir jalan. Padahal pekerjaan Juanda sebagai petugas pemakaman untuk pasien Covid-19 menjadikannya memiliki risiko yang tinggi terinfeksi virus ini. 

Hal inilah yang membuatnya sempat khawatir. Meskipun demikian, dia tetap melaksanakan tugasnya dengan baik hingga saat ini. Sebagai konsekuensinya, dia harus menjaga jarak dari anak dan istrinya di rumah.

Bapak dua orang ini mengaku tidak berani dekat-dekat dengan keluarganya. Selesai melakukan pekerjaannya di TPU, Juanda akan membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, dia akan mandi lagi menggunakan air rebusan sirih. Walaupun sudah membersihkan diri dan berganti pakaian, Juanda tetap menjaga jarak karena takut masih membawa virus tersebut.

Demi menjaga jarak dan meminimalisir interaksi dengan keluarganya, Juanda memilih pulang lebih malam. Ketika rasa rindu untuk bertemu dan memeluk anak-anaknya, Juanda harus menahannya kuat-kuat. Rasa takutnya menularkan virus pada sang anak lebih besar daripada rasa rindunya.

Juanda tidak sendiri. Ada sekitar 40 orang lainnya dengan profesi yang sama dengannya. Berbeda dengan Juanda Bin Sahim yang memilih pulang dan tidur di rumah, rekan-rekan seprofesinya ada yang lebih memilih tidur di TPU karena mereka takut membawa virus saat pulang ke rumah.

Untungnya, saat ini sudah banyak bantuan yang mengalir untuk Juanda dan teman-temannya di TPU Pondok Ranggon. Mereka tidak hanya mendapatkan donasi berupa APD lengkap, namun juga mendapat kiriman makanan gratis. Kepedulian dari orang-orang inilah yang membuat para petugas di garda terdepan ini selalu semangat karena mereka tahu mereka tidak sendirian.

Anda bisa menjadi salah satu orang yang mendukung semangat mereka dalam melaksanakan tugasnya sekaligus meringankan beban kerja mereka. Caranya dengan memberikan perlindungan terbaik untuk Anda sekeluarga melalui Produk Asuransi Syariah dari Allianz.

Di-#AwaliDenganKebaikan untuk keluarga, Anda bisa berkontribusi besar untuk para petugas di garda terdepan. Dengan memiliki produk dari Asuransi Syariah Indonesia, Anda telah ikut serta dalam program sosial yang dijalankan oleh Allianz. Nantinya, sebagian dana asuransi yang Anda setorkan akan digunakan untuk menjalankan program sosial ini. Jika Anda ingin berkontribusi lebih, Anda bisa memanfaatkan fitur wakaf yang tersedia.

Program sosial ini menyasar orang-orang yang membutuhkan bantuan dan sosok-sosok inspiratif seperti Juanda Bin Sahim dan rekan-rekan seprofesinya. Orang-orang seperti Juanda pantas diberikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi atas kerelaannya mengurus jenazah Covid-19 di Jakarta.
SHARE

About Ayead Gaptek

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment