Kisah Kiswanti, Penjual Jamu yang Mendirikan Taman Bacaan

Berkontribusi secara sukarela untuk negeri sendiri memang tidaklah mudah. Yang mengagumkan, hal tersebut justru menjadi mimpi bagi orang sederhana berhati mulia. Sosok Ibu Kiswanti adalah salah satu pegiat literasi. Penjual jamu ini mendirikan taman bacaan yang kini sudah punya banyak koleksi dan pengunjung. Peningkatan minat baca dapat terwujud berkat adanya taman bacaan ini.

Krisnawati

Sosok Kiswanti
Kiswanti adalah sosok yang menginspirasi. Bagaimana tidak, beliau adalah seorang penggiat literasi yang rela berjuang sukarela di tengah banyak orang yang umumnya kurang peduli dengan literasi. Niat mulianya ini sangat bermanfaat untuk banyak pihak, terutama penduduk kurang mampu. Beliau mendirikan taman bacaan dari uang hasil berjualan jamu.

Perempuan berusia 52 tahun ini sangat gigih dalam berjuang. Sewaktu kecil, beliau menjalani hidup prihatin agar bisa bersekolah. Ayahnya adalah seorang tukang becak yang berjuang menyekolahkan anaknya dan menyisihkan penghasilannya menarik becak untuk membelikannya buku. Kiswanti kecil memang sudah giat belajar dan hobi membaca.

Awal Munculnya Niat Mendirikan Taman Bacaan
Niat Ibu Kiswanti yang sangat mulia untuk membangun taman bacaan memang sudah muncul sejak beliau kecil. Meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu, beliau terus berpikir kritis mengapa ketika ingin menjadi anggota perpustakaan harus membayar terlebih dahulu. Hal ini yang terus dipikirkannya dan muncullah tekad bahwa kelak ia akan mendirikan taman bacaan gratis.

Tekad tersebut bertambah ketika cerita kelam sempat dialami perempuan asli Bantul, Yogyakarta, ini. Ibunya meninggal dan beliau terpaksa berhenti sekolah demi menggantikan ibunya berjualan jamu untuk membiayai 4 orang adiknya. Ayahnya yang sangat sadar akan pentingnya pendidikan, berupaya meminjam buku ke tetangga agar Kiswanti tetap belajar.

Setelah mengalami kisah putus sekolah, ternyata perjuangan Kiswanti untuk belajar tidak berhenti sampai di situ. Sambil berjualan jamu, beliau membawa serta beberapa buku bacaan. Setelah beranjak dewasa, beliau menjadi pembantu rumah tangga di Filipina pada tahun 1989. Beliau membawa serta buku-bukunya hingga majikannya pun heran karena kamarnya penuh buku.

Perjuangan Mendirikan Taman Bacaan
Singkat cerita, pada tahun 1994, Kiswanti menikah dengan Ngatmin, seorang buruh bangunan yang sangat mendukung cita-citanya menggiatkan literasi. Setelah menikah, beliau pindah tempat tinggal di Lebak Wangi, Parung, Bogor, tempat suaminya bekerja.
Di sanalah, beliau mulai melaksanakan niatnya membangun tempat baca gratis yang diberi nama Warabal (Warung Baca Lebak Wangi). Seiring berjalannya waktu, koleksi bukunya bertambah hingga puluhan ribu.

Selama 5 tahun, Kiswanti juga berhasil melunasi angsuran sebidang tanah 4x10 meter persegi di sebelah kiri rumahnya untuk dijadikan taman bacaan. Berkat donasi dari LSM dan donatur lainnya, Warabal lebih modern dengan bangunan dua lantai dan dilengkapi akses internet.

Pendirian taman bacaan ini sangat bermanfaat untuk menggiatkan literasi masyarakat. Bantuan donasi dari asuransi wakaf Allianz sangat tepat untuk ikuti mengembangkan taman bacaan Warabal ini. Dengan taman bacaan yang semakin memadai dan berfasilitas unggul, akan semakin banyak penerima manfaat. Wawasan dan ilmu pengetahuan akan diterima dengan baik.

Perjuangan Ibu Kiswanti dalam meningkatkan minat baca masyarakat patut dihargai. Tidaklah mudah berjuang secara sukarela menyisihkan uang hasil berjualan jamu untuk membangun sebuah taman bacaan. Beliau layak mendapatkan hadiah kompetisi Blog Berlipatnya Berkah dari lembaga asuransi wakaf Allianz. Sesuai fungsinya, wakaf bisa berguna untuk kesejahteraan sesama.
SHARE

About Ayead Gaptek

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Post a Comment